Tata Ruang

Tata Ruang

ABSTRAK

Secara geografis sebagian besar wilayah Indonesia termasuk dalam daerah rawan bencana karena memiliki ± 129 gunungapi aktif (Simandjuntak dan Barber, 1996) yang salah satunya adalah Gunungapi Merapi. Erupsi Gunungapi Merapi menimbulkan bencana primer dan bencana sekunder. Banjir lahar adalah bencana sekunder karena ada kejadian hujan dengan intensitas tinggi di hulu sehingga aliran membawa material letusan dari lereng-lereng melalui sungai-sungai ke hilir.

Banyaknya penduduk yang memilih tinggal di tempat-tempat yang memiliki potensi bencana karena pada umumnya wilayah gunungapi memiliki potensi ekonomis yang cukup tinggi. Mitigasi bencana, dalam UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, dapat dilakukan secara fisik dengan teknologi sabo dan nonfisik. Penanggulangan nonfisik, salah satunya dengan penataan ruang pada daerah rawan bencana sedimen. Namun, kedua upaya tersebut kurang bersinergi dalam pengimplementasiannya.

Studi konsep penataan ruang ini merupakan studi mengenai RTRW pada daerah rawan bencana sedimen, khususnya banjir lahar di kawasan Gunungapi Merapi, dan upaya-upaya implementasinya oleh pemerintah serta bagaimana peran Teknologi Sabo sebagai salah satu elemen pengarah dalam pola ruang pada wilayah bencana tersebut sehingga sesuai dengan RTRW.